Archive for Film Ketika Cinta Bertasbih 2

Sinopsis Film Ketika Cinta Bertasbih 2

Abdullah Khairul Azzam – 28 tahun- pemuda tampan dan cerdas dari sebuah desa di Jawa Tengah. Dari kecil, Azzam sudah terlihat sebagai anak yang sangat baik budi pekertinya. Atas usahanya yang gigih dia berhasil memperoleh bea siswa untuk belajar di Al Azhar Mesir selepas menamatkan Aliyah di desanya.Baru setahun di Kairo dan menjadi mahasiswa berprestasi peraih predikat Jayyid Jiddan (Lulus dengan Sempurna), ayahnya meninggal dunia. Sebagai anak tertua Azzam mau tidak mau harus bertanggung jawab atas kehidupan keluarganya, dikarenakan adiknya masih kecil-kecil. Sementara itu, dia sendiri harus menyelesaikan studinya di Negara orang. Akhirnya dia mulai membagi waktu untuk belajar dan mencari nafkah. Ia mulai membuat tempe dan bakso yang ia pasarkan di lingkungan KBRI dia Kairo. Berkat keahlian dan keuletannya dalam memasak, Azzam menjadi populer dan dekat dengan kalangan staf KBRI di Cairo. Tapi hal itu berimbas pada kuliah Azzam, sudah 9 tahun berlalu, ia belum juga menyelesaikan kuliahnya.

Seringnya Azzam mendapatkan job di KBRI Cairo mempertemukan ia dengan Puteri Duta Besar, Eliana Pramesthi Alam. Eliana adalah lulusan EHESS Perancis yang melanjutkan S-2 nya di American University in Cairo. Selain cerdas, Eliana juga terkenal di kalangan mahasiswa karena kecantikannya. Ia bahkan pernah diminta main di salah satu film produksi Hollywood, juga untuk Film layar lebar dan Sinetron di Jakarta. Segudang prestasi dan juga kecantikan Eliana membuat Azzam menaruh hati pada Eliana. Tetapi Azzam urung menjalin hubungan lebih dekat dengan Eliana, karena selain sifat dan kehidupannya yang sedikit bertolak belakang dengan Azzam, juga karena nasihat dari Pak Ali, supir KBRI yang sangat dekat dengan keluarga Eliana.

Apa yang dikatakan Pak Ali cukup terngiang-ngiang di benaknya, bahwa ada seorang gadis yang lebih cocok untuk Azzam. Azzam disarankan untuk buru-buru mengkhitbah (melamar) seorang mahasiswa cantik yang tak kalah cerdasnya dengan Eliana. Dia bernama Anna Althafunnisa, S-1 dari Kuliyyatul Banaat di Alexandria dan sedang mengambil S-2 di Kuliyyatul Banaat Al Azhar – Cairo, yang juga menguasai bahasa Inggris, Arab dan Mandarin. menurut Pak Ali, kelebihan Anna dari Eliana adalah bahwa Anna memakai jilbab dan sholehah, bapaknya seorang Kiai Pesantren bernama Kiai Luthfi Hakim.

Ada keinginan Khaerul Azzam untuk menghkhitbah Anna walaupun ia belum pernah bertemu atau melihat Anna. Karena tidak punya biaya untuk pulang ke Indonesia, Pak Ali menyarankan supaya melamar lewat pamannya yang ada di Cairo, yaitu Ustadz Mujab, dimana Azzam sudah sangat mengenal ustadz itu. Dengan niat penuh dia pun datang ke ustadz Mujab untuk mengkhitbah Anna Althafunnisa. Tapi ternyata lamaran itu ditolak atas dasar status. Karena S-1 Azzam yang tidak juga selesai, dan lebih dikenal karena jualan tempe dan baso. Selain itu, Anna telah dikhitbah lebih dulu oleh seorang pria yang alih-alih adalah Furqon, sahabat Azzam yang juga mahasiswa dari keluarga kaya yang juga cerdas dimana dalam waktu dekat akan menyelesaikan S-2 nya. Azzam bisa menerima alasan itu, meskipun hatinya cukup perih.

Tetapi kemudian Furqon mendapat musibah yang sangat menghancurkan harapan-harapan hidupnya. Hal tersebut membuatnya menghadapi dilemma antara ia harus tetap menikahi Anna yang telah dikhitbahnya, tetapi itu juga sekaligus akan dapat menghancurkan hidup Anna.

Sementara itu Ayyatul Husna, adik Azzam yang sering mengirim berita dari kampung, membawa kabar yang cukup meringankan hati Azzam. Agar Azzam tidak perlu lagi mengirim uang ke kampung dan lebih berkonsentrasi menyelesaikan kuliahnya. Karena selain Husna telah lulus kuliah di UNS, ia juga sudah bekerja sebagai Psikolog. Keahlian Husna dalam menulis sudah membuahkan hasil. Penghasilan Husna cukup dapat membiayai kebutuhan adiknya yang mengambil program D-3, serta adik bontotnya yang bernama Sarah yang masih mondok di Pesantren.

Azzam yang sudah sangat rindu dengan keluarganya memutuskan untuk serius dalam belajar, hingga akhirnya berhasil lulus. Azzam pun menepati janjinya ke keluarganya untuk kembali ke kampong dan segera mencari jodoh di sana, memenuhi amanat ibunya. Walaupun sebenarnya masih terbersit sedikit harapan untuk tetap mendapatkan hati Anna.

Apakah mungkin Azzam akan berjodoh dengan Anna? Ataukah Eliana yang sebenarnya juga masih penasaran dengan Azzam? Ataukah Azzam berhasil menemukan tambatan hatinya di Indonesia?

 


Narasumber ; asnur06[at]gmail[dot]com

Comments (2) »

Kumpulan Image Film KCB 2

Images Film KCB 2

KCB2-1-1

kcb2

images

imagesz

ketika-cinta-bertasbih-2

images

kcb21

 

Leave a comment »

Pemain Ketika Cinta Bertasbih ( Meyda Sefira Sbg Husna )

Husna diperankan oleh Meyda Sefira


Husna merupakan adik Azzam yang tinggal di Indonesia. Ia mahasiswa psikologi yang cerdas. Ia juga memiliki kemampuan dalam bidang sastra. Hal tersebut membuatnya terjun dalam dunia tulis menulis. Gadis berusia 22 juga merupakan sosok yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Kemampuan diri untuk menjalin hubungan baik dengan orang lain membuat Husna menjadi sosok yang menyenangkan.

Narasumber :

Nursohib

Meyda Sefira Terpilih Jadi Husna di

“Ketika Cinta Bertasbih”

BANDUNG kembali melahirkan calon bintang di dunia perfilman Indonesia. Namanya Meyda Sefira. Mahasiswi Itenas jurusan teknik lingkungan tahun kedua. Terhadap perempuan yang lahir di Bandung 20 Mei 1988 itu, dewi fortuna tengah berpihak padanya. Buktinya, begitu namanya diumumkan di acara audisi film “Ketika Cinta Bertasbih” sebagai pemenang untuk memerankan tokoh Husna, yang disampaikan oleh sutradara Chairul Umam, wajah Meyda Sefira yang semula tampak tegang, langsung berubah bahagia. Secara tidak langsung, ia bersujud mencium lantai studio RCTI, yang disiarkan secara langsung belum lama ini. Pemeran Husna adalah salah seorang tokoh di film “Ketika Cinta Bertasbih”.

“Kemenangan ini sungguh di luar dugaan, saya benar-benar tidak menyangka karena dari ribuan peserta audisi, banyak yang bagus-bagus. Saya sendiri mengikuti ajang ini karena penasaran dengan tokoh Husna yang pribadinya sangat menantang,” ujar Meyda Sefira saat ditemui di Studio Klop+ STV, Kamis (18/9).

Perjuangan Meyda hingga memperoleh peran sebagai Husna, memang tidak mudah. Untuk memperoleh peran Husna, di Bandung ia harus bersaing dengan 1.060 peserta. Ia kemudian lolos 20 besar dan diharuskan masuk karantina di Depok Jawa Barat. Berbekal dorongan ibundanya Ny. Annie Maryani Irvin Murad, ia ditantang untuk mendaftar ke salah satu radio swasta di Bandung. “Ucapan mama waktu itu membuat saya yakin untuk mendaftar di dunia acting. Dia hanya bilang begini, ’kenapa tidak mencoba daftar audisi? Kamu kan sudah baca novelnya, coba aja,’ itu kata-kata mama yang saya maknai sebagai dorongan kuat yang luar biasa,” ungkap anak ketiga dari lima bersaudara ini.

Narasumber : Pikiran Rakyat Online

Meyda Sefira Turis Bersama KCB

Sementara seluruh pemain dan kru Ketika Cinta Bertasbih (KCB) sibuk syuting di Mesir, salah satu bintang utamanya Meyda Sefira justru sibuk merencanakan tempat-tempat wisata yang akan dikunjunginya selama di Mesir.Ikut ke Mesir bersama kru film, tapi malah liburan. Lho kok?

”Aku nggak ada scene di Mesir. Jadi aku cuma jalan-jalan aja,” ujar pemeran  Husna dalam film KCB saat ditemui sedang menikmati indahnya Kota Alexandria, Mesir, Ahad (9/11). ”Ini hadiah karena aku terpilih jadi 5 bintang KCB,” tegasnya.

Dalam skenario film yang diangkat dari novel KCB karya Habiburrahman El Shirazy, Husna merupakan adik dari tokoh sentra film KCB, bernama Azzam. Husna berwajah Jawa yang anggun, tampil cantik dan serasi dengan jilbabnya. Husna memiliki innerbeauty. Tutur katanya halus dengan kalimat yang tertata puitis.”Aku baru ada scene di Semarang dan Yogyakarta,” ungkap Husna …eh Meyda itu, lembut.

Perempuan lajang kelahiran Bandung 20 Mei 1988 mengaku selama di Mesir ini sudah mengunjungi obyek-obyek wisata seperti Masjid dan Taman Al Azhar, Piramida & Sphinx serta Sungai Nil. ”Mesir, negeri dengan peradaban dan puing-puing sejarah yang tinggi,” terang Meyda.

Daftar panjang oleh-oleh sudah disiapkan Meyda. ”Aku akan beli Al quran kecil dan souvenir khas Mesir,” ungkap Meyda yang sudah mendapat bocoran tempat belanja oleh-oleh yang murah yakni di Pasar Khan Khalili, Kairo.

Narasumber : Replubika Online

hus

11

Comments (6) »

(OKI SETIANA DEWI sbg. ANNA) OKI SETIANA DEWI sbg. ANNA

Dara kelahiran Batam 13 Januari 1989, awalnya mendaftar untuk memerankan karakter Husna. Tapi diperjalanan karantina, ia akhirnya disarankan oleh Juri untuk masuk dalam kelompok pemeran Anna. Walaupun sempat kaget dan minim persiapan untuk memerankan karakter Anna, akhirnya Oki terpilih untuk menjadi pemeran tokoh Anna. Mungkin juri telah melihat potensi Oki untuk menjadi Anna dibandungkan Husna.

Saat ini Oki menjalani kesibukannya sebagai mahasiswi semester 3 di Sastra Belanda Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Selain cantik dan pintar, Oki juga memiliki segudang prestasi, antara lain : Putri Bunga Argadia Tingkat Nasional di Jakarta; Unggulan Covergirl Aneka Yess [2003]; Princess Fotogenic Hotel Mulia Panorama Batam [2004]; Juara I Busana Muslim “Anak Negeri Lancang Kuning” se-Kepulauan Riau; Juara II Speech Contest tk. SLTA se-Jabodetabek PPPG Bahasa, 2nd Winner Debating Constest tk. Provinsi Jawa Barat [2005]; Mahasiswa Baru Terbaik “Orientasi Kehidupan Kampus” UI [2007]; Aktris Terbaik Festival Teater “Petang Kreatif” FIB UI 2008.

Narasumber

Mail : waone_2bls@yahoo.com duabelas_2th@yahoo.com wan2bls@gmail.com



 

 

Sekilas Tentang Tokoh Anna

Berbeda dengan sosok Eliana, Anna merupakan gadis dengan sosok yang amat Islami. Hari-harinya ia hiasi dengan bacaan Al Quran. Ia memang lahir dan besar dalam lingkungan pesantren milik ayahnya. Ayahnya sendiri merupakan seorang kiayi. Gadis cantik berusia 25 tahun ini tak banyak dikenal di kalangan mahasiswa lainnya. Anna memang bukan merupakan sosok yang senang memperlihatkan diri. Walau demikian, namanya telah banyak terpampang dalam berbagai jurnal dan media. Prestasi pun telah banyak ia ukir dalam perjalanan hidupnya.

Narasumber :

Nursohib


Oki Setiana Dewi Belasan kali membaca novel Ketika Cinta

Bertasbih

“Aku pembaca karya-karya Kang Abik (Habibburahman EL Shirazy) dan sangat terinspirasi oleh penggambaran Kang Abik tentanq perempuan muslimah. Tapi aku nggak tau sama sekali kalau ada audisi pemeran untuk film KCB. Teman-teman mushola yang bilang mereka menyarankan aku untuk ikut. Awalnya aku nggak mau. Soalnya aku hanya pengin kuliah dan berorganisasi di kampus. Trus aku juga berpikir dunia artis itu glamor. Tapi teman-temanku berhasil meyakinkan kalau audisi itu kesempatan yang bagus. Akhimya aku menyerah dan ikut audisi, sampai akhirnya terpilih sebagai Anna,” cerita Oki.

Nggak ada ambisi Oki untuk menang saat audisi “Waktu itu aku mohon ke Allah, kalau ini memang jalanku dan membawa kebaikan, tolong diiancarkan. Tapi kalau nggak baik untukku tolong distop, Nggak papa kok aku tetap jadi mahasiswi. Ternyata jalanku sangat dipermulus. Selama audisi sampai karantina nggak ada kesulitan ebrarti. Masa-masa karantina malah sangat menyenangkan buatku. Kami semua mendapat ilmu yang lebih dari cukup dan pengalaman spiritual yang luar biasa. Lingkungannya juga sangat kondustf,” lanjut Oki. Nothing to lose, itu prinsip Oki selama audisi dan karantina selama 4 bulan.

Karakter Anna di novel KCB sangat kuat, dia adalah sosok perempuan yang tegar, cerdas, cantik, anggun, dan berbakti pada orangtua. That’s why di awal-awal terpilihnya Oki sebagai Anna, dia merasakan beban berat. “Tapi aku nggak mau membiarkan hal itu terus-terusan jadi beban pikiran. Mau nggak mau ini adalah amanah. Akhirnya aku mengubah mindset, lakukan yang terbaik. Aku harus mengejar Anna dan aku adalah Anna,” kata Ok.

Untuk memperdalam karakternya, waktu pergi ke Mesir dengan tim KCB, Oki ikut belajar di Universitas Al Azhar di Kairo dan mengunjungi flat mahasiswi Malaysia disana (teman-teman Anna adalah mahasiswi Malaysia). Dia juga belajar mengaji dengan tekun. Lalu gimana nih menciptakan chemistry cinta dengan Azzam? “Nggak ada masalah ya. Soalnya kami udah saling kenal selama audisi dan karantina. Itu udah setaun lebih. Jadi chemistry itu terbentuk karena hubungan yang udah seperti saudara.

Narasumber :

 

TEEN, Edisi 171, II Juli 2009)

Sample_CRF_Anna_KCB

Leave a comment »

Tokoh Ketika Cinta Bertasbih (Azzam diperankan oleh M. Kholidi Asadil Alam)

Azzam diperankan oleh M. Kholidi Asadil Alam

Pria asli Pasuruan kelahiran 30 Maret 1989 ini terpilih untuk memerankan karakter Azzam. Setelah lulus SMA di Jakarta tahun 2007 lalu, ia memilih untuk mendalami agama di Pondok Pesantren Darul Islah. Di sela-sela kesibukannya mendalami agama, ia juga menjadi distributor salah satu produk sarung di Jawa Timur untuk dipasarkan di Jakarta.

Dengan tinggi 185cm dan berat 80kg, Cholidi juga memiliki segudang prestasi yang cukup membanggakan, yang juga menjadi nilai plus untuk dapat memerankan karakter Azzam. Prestasi tersebut antara lain : Juara I Peragaan Busana Muslim Jombang [th.2000], Juara I Cak&Yuk Cilik Kab. Pasuruan; Juara I Peragaan Busana Muslim se-Jawa Timur [2001]; Juara I Duta Olahraga DKI [2005]; Duta Wisata Pulau Seribu; Juara I Liga Sepak Bola Pelajar Jak-Sel; Juara II Karate Se-DKI [2006]; Juara I Turnamen Voli Tingkat SMU [2006 & 2007].

Dengan segudang bakatnya, ilmu agama yang baik, berpenampilan menarik & postur tubuh proporsional, tak salah jika tim juri memilihnya untuk dapat memerankan karakter Azzam.

Narasumber : Ranisajunita@yahoo.com

Sekilas Mengenai Tokoh Azzam :

Bagi Azzam, Kairo merupakan kerja keras, tumpahan keringat, perjuangan hidup, dan perjalanan bakti kepada keluarga. Kairo telah mengukir perjuangan hidup mahasiswa Al Azhar University Kairo asal Indonesia itu. Azzam, pemuda berusia 28 tahun yang amat Islami, dengan gigih ia menempatkan tingkah lakunya sesuai dengan pedoman ajaran agama Islam. Ia tak mengenal kata lelah untuk terus menjalankan ibadah. Dalam dirinya memang mengalir figur pekerja keras. Selain itu, Azzam merupakan sosok yang memiliki jiwa kepemimpinan. Pengalaman dan keteguhan sikap merupakan faktor yang membuatnya dituakan oleh beberapa mahasiswa yang tinggal dalam satu flat bersamanya. Ketepatan dan kecepatannya dalam membaca keadaan dan membuat keputusan membuatnya ia menjadi orang yang terpercaya. Taat pada amanah, jujur, bersahaja, merupakan kelebihan lain yang juga dimiliki oleh tokoh ini.

narasumber :

Nursohib

Other posts by Nusohib

Author’s web site http://blogsohib.com/

Cholidi Asadil Alam Introspeksi Diri Karena Azzam

Cholidi mengemukakan, karakter Azzam memotivasi dirinya agar belajar lebih baik, sekaligus mendalami kandungan ayat-ayat suci Al-quran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.

Dia mengaku beruntung memerankan tokoh Azzam, karena secara tidak langsung memberi pelajaran berharga bagi dirinya, soal arti kehidupan.

“Saya sudah berusaha mempraktekkan ajaran Alquran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW dengan baik. Tetapi, dengan memerankan karakter Azzam, saya lebih termotivasi lagi untuk belajar dan meningkatkan kualitas ibadah,” kata Cholidi

Cholidi yang lolos sebagai pemeran utama bersama Alice Norin (Eliana), Oki Setiana Dewi (Anna), Andi Asyril Rahman (Furqon) dan Meyda Syafira (Husna) dalam film KETIKA CINTA BERTASBIH harus juga praktek membuat tempe di Pasuruan Jawa Timur.

“Saya praktek di tempat pembuatan tempe dan bakso di Pasuruan agar memahami tokoh Azzam,” ujar Cholidi  yang juga menjadi distributor salah satu produk sarung di Jawa Timur.

Narasumber :

Kapanlagi.com


j

Leave a comment »

Tokoh Ketika Cinta Bertasbih (ANDI ARSYIL RAHMAN PUTRA sbg. FURQON)

ANDI ARSYIL RAHMAN PUTRA sbg. FURQON

Arsyil, pria asal Makassar kelahiran 15 September 1987, saat ini menjalani hari-harinya sebagai Mahasiswa di STIMIK Dipanegara, juga sebagai Duta Pariwisata Kota Makassar. Di sela-sela kesibukannya, ia mencoba untuk menjadi tokoh Furqon dalan Audisi Film Ketika Cinta Bertasbih. Tidak sia-sia, setelah melalui seleksi yang sangat ketat, ia akhirnya dipilih oleh tim juri untuk memerankan tokoh Furqon.

Seperti 4 pemeran tokoh utama lainnya, Arsyil juga memiliki segudang prestasi yang antara lain : Juara 3 Lomba Fisika “The Most Creative Student”; Juara I Wajah IT; Juara I Duta Kawasaki [2007]; Busana Terbaik ke-2 Lomba Busana Adat tk. Nasional di TMII; Juara I Pemilihan Dara & Daeng [2008]; Juara II Pemilihan Model Makassar Terkini; Duta Pariwisata Kota Makassar Sulawesi Selatan.

Narasumber : Mail : waone_2bls@yahoo.com duabelas_2th@yahoo.com wan2bls@gmail.com

Sekilas Tentang Tokoh Furqon :

Furqon merupakan sosok pemuda yang terkenal dengan katampanannya. Mahasiswa asal Indonesia di Kairo banyak yang mengenalinya karena paras wajah khas Melayunya yang menarik. Tak hanya mahasiswa asal Indonesia saja, namun mahasiswa asal Mesir dan negara lain banyak yang tertarik padanya. Selain tampan, Furqon juga merupakan pemuda yang pintar dan memiliki pemikiran rasional. Kepintarannya terdukung oleh status keluarganya yang kaya raya. Sebagian besar waktunya ia habiskan untuk belajar, sebab ia tak perlu pusing-pusing memikirkan mengenai fasilitas hidup selama ia tinggal di Kairo. Ia duduk diangkatan yang sama dengan Azzam, bedanya, Azzam masih menjalankan studi S1 sedangkan ia telah sampai pada tahap pembuatan tesis.

Narasumber :

Nursohib ;

Other posts by Nursohib

Author’s web site http://blogsohib.com/

Andi Arsyil Belajar Bahasa Arab

Tantangan yang dialami Andi Arsyil yang berperan sebagai tokoh Furqon yang berusia 29 tahun. Padahal umur Andi sendiri baru 21 tahun. “Apalagi di novel itu dikisahkan saya sudah 9 tahun tinggal di Mesir. Jadi, kan harus lancar berbahasa Arab. Akhirnya sekarang sedikit-sedikit masih bisa bahasa Arab,” katanya sambil menjajal kalimat ‘Selamat sore, saya saat ini sedang berada di Matos’ dalam bahasa Arab. Demi memerankan tokoh Furqon dalam KCB Andi Arsyil harus belajar bahasa Arab.

furqon_250_resize1

Leave a comment »

Alice Norin

ALICE SOFIE NORIN sbg. ELIANA

Wanita kelahiran Norwegia 21 Juni 1987 ini telah malang melintang di dunia modeling sejak umur 13 tahun. Saat ini ia lebih banyak menghabiskan waktunya sebagai bintang sinetron di rumah produksi Sinemart yang berjudul Assalamualaikum Cinta. Judul-judul sinetron yang telah Alice bintangi lainnya antara lain : Wulan, Kasih, Diva, Putri Kembar, dll.

Walaupun sibuk menjalani syuting sinetron, Alice tidak mengubur keinginannya untuk menjadi sutradara. Debut pertamanya adalah video klip berjudul “Rusty Guitar” yang terdapat di album “Keluar Malam Repackage” milik suaminya DJ Riri Mestica.

Dapat memerankan tokoh Eliana pun menjadi salah satu impian Alice. Untuk memperbesar peluangnya, Alice pun mengasah kemampuan mengajinya dengan mendatangkan guru ngaji 4x seminggu. Perjuangan Alice tidak sia-sia. Tim juri melihat perkembangan pesat dalam diri Alice dari masa audisi sampai karantina terakhir. Hingga tim juri pun menjatuhkan pilihan pada Alice untuk memerankan tokoh Eliana.

Narasumber :

Mail : waone_2bls@yahoo.com duabelas_2th@yahoo.com wan2bls@gmail.com

Demi KCB, Alice Norin Bekerja Keras

Aktris Alice Norin telah merampungkan syuting film layar lebarnya yang pertama ‘Ketika Cinta Bertasbih’ (KCB). Ia mengaku telah bekerja keras untuk berperan di film tersebut.

“Aku memang bekerja keras untuk film ini,” ujarnya saat ditemui di Gedung Caraka Loka, Senayan, Jakarta Selatan, Minggu (5/4/2009). Menurut bintang sinetron ‘Wulan’ itu, ia telah menghabiskan banyak waktunya untuk syuting film yang diangkat dari novel karya Habiburahman El Shirazy tersebut. Namun apakah yang didapat Alice cukup membayar pengorbanannya.

“Alhamdulillah banget semuanya balance. Dan semua pihak mendukung aku. Ini merupakan pengalaman yang menarik buat aku,” ujarnya lagi.

Pernyataan Alice mungkin cukup beralasan. Bagaimana tidak? Selain telah memiliki pengalaman syuting di tempat yang indah seperti Alexandria, istri DJ Riri itu juga akan segera terkenal di negara-negara ASEAN. Karena KCB juga akan diputar di 8 negara ASEAN.

Narasumber  (kilasberita.com/asd/dtc)

Sekilas Tentang Tokoh Eliana

Jika dalam novel KCB terdapat sosok gadis yang cantik, berpenampilan menarik, cerdas, energik, agresif dan merupakan putri seorang duta besar, maka sudah dapat dipastikan Eliana lah sosok tersebut. Gadis berusia 24 tahun itu merupakan mahasiswa asal Indonesia yang sedang menjalankan kuliah pasca sarjana di Kairo. Pemikirannya yang kritis dan tajam telah membuatnya lihai dalam bidang jurnalistik maupun diplomatik. Eliana memiliki pergaulan yang luas, gaya hidup yang ala Perancis membuatnya jauh dari penggambaran sosok gadis Islami. Perawakan dan kepribadiannya yang menarik membuatnya terjun dalam profesi sebagai bintang film.

Narasumber

Nursohib ;

Other posts by Nursohib

Author’s web site http://blogsohib.com/


090911_f_style_240x131


Comments (1) »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.